KETIKA sebuah kebenaran telah berada pada satu kelompok dan merasa dimiliki oleh kelompok tersebut, sudah tentu akan muncul sebuah klaim dirinyalah dan kelompoknyalah yang paling benar. Orang lain- di luar- kelompoknya masih perlu diajari tentang kebenaran versi kelompoknya. Jika sikap seperti ini masih mengendap bahkan berubah menjadi membatu dalam diri bangsa ini, penulis yakin, dalam waktu dekat akan muncul sebuah sikap pembenaran terhadap kesalahan yang dilakukan oleh siapa pun.
Hidup di era demokrasi memang membutuhkan kajian dan pendalaman yang benar-benar dalam, dalam istilah sunda neuleuman kaayaan dan asak sasar. Bayi yang lahir dari demokrasi adalah keleluasaan kita untuk menyatakan pendapat. Tentu saja kebebasan berpendapat yang diwadahi dengan kerangka. Bukan kebebasan tanpa kerangka. Kapasitas manusia dalam lingkungan demokrasi tidak lebih dari seorang pengamat tanpa sebuah penghakiman. Lantas siapa hakimnya? Sudah tentu, hati nurani. Kebenaran hati nurani merupakan kebenaran dengan rambu kejujuran.
Pemilu presiden bukan lahan bagi kelompok-kelompok terutama tema sukses calon pasangan presiden untuk menghujat satu sama lain. Melainkan sebuah ladang untuk meningkatkan sudah seberapa jauh kedewasaan kita dalam berdemokrasi. Dalam pandangan manusia dewasa, sudah tidak ada celah lagi munculnya sikap kekanak-kanakan seperti; saling caci, saling hujat, kembali meminjam istilah Sunda, silih jebian, saling klaim kebenaran, dan tidak mau terkalahkan.
Karena, semua orang melihat. Ketika orang-orang yang menganggap dirinya telah dewasa namun masih juga memperlihatkan sikap kekanak-kanakannya, sudah tentu tidak akan ada yang menyukai. Pilihan terbaik dari orang-orang terhadap kelompok tersebut adalah meninggalkannya secara perlahan, bahkan klimaksnya sebuah pernyataan : Matilah!
Pemilu presiden tinggal beberapa hari ke depan, dan orang-orang terutama para pemilih telah melihat seperti apakah calon-calon presiden tahun ini? Orang-orang telah menilai siapa yang lebih baik dari siapa. Intinya, pemilih akan benar-benar menggunakan hak pilihnya di pilpress ini sebagai pilihan terbaik dengan sebuah kalimat.."Memilih orang-orang terbaik..". Ya..memang lumrah, ketika pilihan tertuju kepada orang-orang tidak baik segalanya sudah bisa terbaca, akan seperti apa negara kita nanti?






